Sabtu, 16 Februari 2013

Nilai Filosofi dan Falsafah Budaya Batak, Menunjang, menjadi Unggul

Nilai Filosofi dan Falsafah Budaya Batak, Menunjang, menjadi Unggul

Nilai Filosofi dan Falsafah Budaya Batak, Menunjang, menjadi Unggul.
Nilai Filosofi dan Falsafah Budaya beperan sebagai factor penunjang yang mampu menjaga dan menunjang keseimbangan Harmonisasi kehidupan dan menjadi unggul. Suatu Narasi sederhana yang perlu direnungkan,

Sungguhkah keberhasilan Seorang Manusia dimasa yang lalu dan masa sekarang, hanya oleh berkat pendidikan Modern dan oleh peradaban, pengalaman dari Negara luar yang lebih dulu maju semata?.


Jelas dan sangat nyata Pendidikan formal bukanlah semata mata factor utama akan tetapi adanya factor penunjang keberhasilan tersebut. Bagaimana dengan SIKAP MENTAL, SIKAP SIPIRITUAL, SIKAP NASIONALISME, SIKAP SOLIDARITAS, SIKAP KETELADANAN. Elemen elemen ini turut menjadi bahan pertimbangan.


Nilai falsafah Batak Asli jika diamalkan terbukti mampu mengatur keseimbangan menjadi unggul dalam kehidupan terhadap lingkungan. Yang di perkokoh dengan kuat oleh ajaran Agama yang menjadi prioritas utama.

Banyak Nilai positif dari falsafah Batak ( Umpasa umpasa dalam bahasa batak).yang berbentuk sajak dan dengan kata iain Pepatah, atau semboyan. yang sudah dimiliki sejak dulu yang mengandung muatan unggul kwalitas SDM. Nilai Positif ini dapat saja dimiliki siapa pun non batak.
Ada 10. Pokok Hidup untuk dimiliki. 1. Tetap Semangat , dan Memiliki Motivasi yang tinggi.dan harga diri.

Umpasa ( Pepatah Batak)
TANDA LAGUM ASA HASEA HO.
METMET SI HAPOR PUNJUNG DIUJUNG DO SIMANJUJUNGNA.

Artinya a. Kenalilah akan diri sendiri supaya Sukses.
b. Sekecil apapun belalang tetap kepalanya menjadi Jungjungannya.
2. Menunjukkan low Profil.

Umpasa ( Pepatah Batak) .
NAJAGAR DIJOLO DIJOLO, NAJAGAR DIPUDI PUDI
GIRGIR MANANGI NANGI BAKKOL MAKKATAHON JALA SEREP MARROHA.

Artinya.
Jadikanlah dirimu sering untuk mendengar, tidak apatis, tetapi perlu batasan untuk mengatakan menyampaikiannya dan tetap rendah hati tidak pernah sombong.
3. Belajarlah tanpa batas karena suasana yang kompetitif.

Umpasa ( Pepatah Batak)
IJUK DIPARA PARA, HOTANG DIPARLABIAN, NABISUK NAMPUNA HATA NAOTO TUPANGGADISAN.

Artinya Orang yang pintar atau pandai akan mendapat tempat yang lebih baik dari yang tidak.
4. Tampillah dengan selalu Sopan dan santun.

Umpasa ( Pepatah Batak)
PANTUN DOHANGOLUAN TOIS DO TUHAMAGOAN/HAMATEAN.

Artinya. Orang berperilaku Sopan dan santun adalah cikal bakal kehidupan yang baik tetapi berperilaku sombong dan anggkuh awal dari kehancuran.
5. Rajin Bekerja dan Kerja keras

Umpasa ( Pepatah Batak)
PIDONG HARIJO, PIDONG HARANGAN SITAPI TAPI PIDONG TOBA,
NAGOGO MANGULA DO BUTONG MANGAN, NAJUGUL MARGURU DO DAPOTAN PODA.

Artinya. Orang yang gigih bekerja adalah mendapat mudah Rejeki dan orang ang gigih belajar akan mendapat ilmu lebih.
6. Taat Hukum dan Peraturan.

Umpasa ( Pepatah Batak)
BARIS BARIS NI GAJA TURURA PANGALOAN
MOLO MARSURU RAJA NAIKKON DO OLOAN.

Artinya. Setiap Perintah Atasan atau yang lebih tua haruslah di laksanakan. Dan taat pada atasan.
7. Mampu berintegrasi dan Adaptasi yang tinggi.

Umpasa ( Pepatah Batak)
MUBA DOLOK , MUBA DUHUTNA, MUBA LAUT ,MUBA UHUMNA SIDAPOT SOLUP DO NARO.

Artinya. Lain daerah lain kebiasaannya, lain Kelompok /organisasi lain juga peraturannya, setiap pendatang baru wajib menghormatinya.
8. Rasa Solider yang tinggi dan Kesetia kawanan.
Umpasa ( Pepatah Batak)
MANUK NI PEA LANGGE HOTEK HOTEK LAHO MARPIRA
NASIRANG MARALE ALE LOBIAN MATEAN INA.

Artinya ini mengambarkan Manusia batak suka begaul dan mempunyai banyak teman, Jika kita kehilangan seorang handai taulan sepertinya kita merasa melebihi kehilangan seorang ibu yang kita cintai.
9. Miliki nilai Demokrasi tinggi.

Umpasa ( Pepatah Batak)
RATA PE BULUNG NI SALAK, RATAAN DOPE BULUNG NI SITOROP, ULI PE HATA NI SAHALAK, ULIAN DOPE HATA TOROP.

Artinya Menjungjung tinggi Nilai nilai Demokrasi.
Walaupun pendapat seseorang sudah baik tetapi keputusan bersama adalah lebih baik
10. Pasrah dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Umpasa ( Pepatah Batak)
DOLOK MARTIMBANG HATUBUAN NI SIBOROT,
DEBATA NA DIGINJANG SUHAT SUHAT NI JOLAMA JALA NAPAROROT.

Artinya Tuhan yang maha kuasa menjadi hakim Manusia dan Dia lah yang melindungi

Minggu, 03 Februari 2013

web adat batak

http://www.hasbenyou.com/go/url/1467/kumpulan-umpasa-ni-halak-batak-sebagai-kalimat-nasehat-horas-tano-batak.html

hata poda tu hela dohot tu boruna

Parasaran ni misang tombak ni Panggabean
Sai masiaminaminan ma hamu songon lampak ni pisang
Sai marsintungkultungkolan songon suhat di robean

Aek sihoruhoru di toru ni dolok Martimbang
Rap manimbung ma hamu ia tu toru, rap mangangkat ia tu ginjang

Napuran ni Lumbanjulu tu gambir ni Pahae
Rap Mangalangka ma hamu ia tu julu
Rap mangambe ia tu jae

Tu ho Boru hasian dohononhu ma:
Molo ogung na mabola, pintor dipaboa do luhana
Molo parumaen na marroha pintor dibuat do roha simatuana

Sibigo ambaroba rara hulinghulingna
Gabe uli do parrupa na roam asal ma lambok pangkulingna

Angka Umpasa Pasupasu :
Tubu ma singkoru di lambung ni tandiang
Sai tibu ma hamu marurat tu toru jala tibu marbulung tu ginjang

Na hinunti hirang marisi gadong sipapua
Badanmuna ma na so sirang sahat tu na saurmatua

Tinampul bulung salak laos hona bulung singkoru
Sai tibu ma hamu paabingabing anak jala tibu mangompa boru

Horbo ni sibuluan manjampal di balian
Sai manumpak ma di hamu Tuhan, Sai tiur nang pansarian

dalihan na tolu


DALIHAN NA TOLU Sebagai Pertalian Hubungan Antara Keturunan Batak

Pengertian Dalihan adalah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan Dalihan natolu ialah tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Ketiga dalihan yang ditanam berdekatan ini berfungsi sebagai tungku tempat memasak. Dalihan harus dibuat sama besar dan ditanam sedemikian rupa sehingga jaraknya simetris satu sama lain serta tingginya sama dan harmonis.

Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.
Ompunta naparjolo martungkot sialagundi. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber Hukum Adat Batak.

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
Itulah tiga Falsafah Hukum Adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam Adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.
Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).
2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya: Si Raja Guru Mangaloksa menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.
Dongan Tubu dalam adat batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kimpoi.
Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.
3. Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.
Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.
Versi Lain Tentang Dalihan Na Tolu
Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (Bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (Bahasa Simalungun).
"Dalihan Natolu" ini melambangkan sikap hidup orang batak dalam bermasyarakat. "Dalihan Natolu" yaitu:
1. Marsomba tu Hula-Hula. "Hula-Hula" adalah Orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria, namun hula-hula ini dapat diartikan secara luas. Semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh seorang pria dapat disebut hula-hula. Marsomba tu hula-hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya.
2. Elek Marboru. Boru adalah anak perempuan dari suatu marga, misalnya boru gultom adalah anak perempuan dari marga Gultom. Dalam arti luas, istilah boru ini bukan berarti anak perempuan dari satu keluarga saja, tetapi dari marga tersebut. Elek marboru artinya harus dapat merangkul boru.Hal ini melambangkan kedudukan seorang wanita didalam lingkungan marganya.
3. Manat Mardongan Tubu. Dongan Tubu adalah saudara-saudara semarga. Manat Mardongan Tubu melambangkan hubungan dengan saudara-saudara semarga.
Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.
Dalihan Na Tolu ini menjadi pedoman hidup orang Batak dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh lain adalah adat "Mangulosi" dalam pesta perkawinan orang Batak. Apakah artinya? Mangulosi ini adalah menyelimutkan ulos kepada kedua mempelai yang melambangkan pemberian restu orang tua kepada anaknya.
Jika ditelaah lebih dalam, seni budaya batak yang sudah dipakai sejak ratusan tahun yang lalu itu banyak mengandung segi positifnya. Namun ada beberapa hal negatif dari budaya batak yang harus kita tinggalkan, misalnya budaya banyak bicara sedikit bekerja. Memang orang batak terkenal pintar berbicara.
Hal ini terlihat dari banyaknya pengacara-pengacara batak yang sukses. Akan tetapi kepintaran berbicara ini sering disalahgunakan untuk membolak-balikan fakta. Yang hitam bisa jadi putih dan yang putih bisa jadi hitam ditangan pengacara batak (walaupun tidak semua).
Hal lain yang negatif adalah budaya "HoTeL". HoTeL adalah singkatan dari:
1. Hosom yang artinya dendam. Konon orang batak suka mendendam sesama saudara
2. Teal yang artinya sombong, yang dapat terlihat dari cara bicara, sikap hidup, dll.
3. Late yang artinya Iri Hati.
Apakah HoTeL ini hanya ada pada orang Batak saja? Kita sebagai generasi muda harus dapat mempertahankan budaya yang positif dan meninggalkan yang negati

Kumpulan Umpasa ni Halak Batak sebagai Kalimat Nasehat


Pada kesempatan ini saya berbagi waktu untuk menuliskan beberapa kalimat nasehat yang selalu dijaga oleh suku Batak dimanapun mereka berada, sebagai seorang suku batak sudah sepantasnya kita menjaga warisan nenek moyang. Mudah-mudahan setelah Anda membaca dan memahami makna kalimat dari Umpasa ni Halak Batak ini, anda dapat mempergunakannya dan menerapkannya dalam kehidupan anda dalam keluarga maupun bermasyarakat. 
Ini merupakan kalimat Nasehat Orang Batak atau sering disebutkan dengan UMPASA yang sangat bersifat Positif dan akan selalu dijaga oleh setiap suku batak sebagai warisan dari Nenek Moyang. Ini adalah sarana bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh nenek moyang suku batak dan sampai sekarang akan selalu disimpan dalam hidup sehari-haari, selalu ingat dan mempraktekkan apa makna yang tersirat dari kalimat Umpasa tersebut. Seperti lirik-lirik yang ada pada lagu HORAS SAYUR MATUA yang Berarti Kita Akan Selalu Diberkati Hingga Masa Tua, memiliki Cucu hingga generasi ke generasi.

Kumpulan Umpasa ni Halak Batak :


Kumpulan Umpasa ni Halak Batak :


# Urat ni gatap tano, rongging marsiranggoman
Age pe padao-dao,Tondyttai tong marsigomgoman.
Artinya Walaupun kita ber jauh-jauhan tetapi hati dan jiwa kita akan selalu berdekatan.
# Ia bagod i nakkih, ilambung ni sampuran
Ia jaman on jaman canggih, ulang lupa hubani Tuhan,
Artinya walaupun jaman sudah canggih tetapi jangan lah melupakan tuhan.
# Halambir ni sindamak, ikuhur dop ibola
Sinaha pe nini halak, ulang lupa bani horja,
Artinya
# Juma ni Tigarunggu, tubuhan lata-lata
Rajin ma hita marminggu, ase tong-tong ihasomani Tuhanta,
Artinya RajinLah Selalu Memuji tuhan ke gereja agar kita selalu dilindungi tuhan.
# Sinjata ni Indonesia, mariam dohot mortir
Andohar Indonesia jaya,Rakyat ni pe homa makmur, Artinya Senjata orang indonesia Meriam dan martir, setelah indonesia merdeka rakyatpun menjadi makmur.

# I lambung passa-passa, Tubu bonani tobu
Age aha pe namasa,Hita ulang mahua, Artinya Apapun yang Terjadi Kita Selalu Tenang.

# Ratting ni hayu bor-bor, ibaen hu pingging pasu
Anggo rajinmartonggo, Jumpahan pasu-pasu, Artinya Jika anda rajin Menjalankan Adat..anda akan selalu mendapat berkah.

# Boras ibagas supak, ibaen huparasanding
Horas nasiam namulak, horas homa hanami na tading, Artinya Selamat lah anda yang bepergian..dan damailah anda yang ditinggal.

# Borasni purba tua, iboan hu tiga balata
Horas ma hita sayur matua, itumpak-tumpak Naibatanta, Artinya Damai Sejahteralah Bagi Orang Tua dan di dalam perlindungan tuhan kita.

# Andor hadukka ma togu-togu ni lombu, togu-togu ni horbo, itogu hu Ajibata
Horas ma hita sayur matua, patogu-togu pahompu, das mar nini mar nono,
ipasu-pasu Naibatanta, Artinya Damai Sejahtralah bagi orang tua,Mengajar-ajarin anak sampai kecucu-cucunya agar selalu diberkati tuhan kita.

# Urat ni nangka, urat ni hotang
Hujape hita manlangkah, sai dapot-dapotan, Artinya Kemanapun kita melangkah Akan selalu mendapat berkah.

# Tubuh ma sanggar dohot tobu, dohor hupagar kawat
Tubuh ma anak pakon boru, jadi jolma na marpangkat Artinya Lahirlah Anak lelaki dan anak perempuan dari kamu hingga menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.

# Urat ni riba dagei iboan hu Sukadame
Ulang bei sai marbadai, sai roh ma uhur dame, Artinya Janganlah Anda selalu bertengkar..tetapi Ajaklah untuk selalu berdamai.

# Dalan hua Ajibata, adong do tubuh Pisang
Anggo domma marrumah tangga, ulang ma adong hata mandok sirang, Artinya Jika anda sudah berumah tangga,jangan pernah untuk berpisah.

# Tubu sanggar dohot tobu i dolok-dolok
Tubu ma anak pakon boru na mok-mok. Artinya Lahirlah dari pada kamu anak yang sehat dan gemuk.
 
# Arirang ni palia, madek-dek hu bong-bongan
Age adong parsalisihan, ulang mar sidom-doman, Artinya walaupun anda punya perselisihan..tetapi janganlah anda saling mendendam.

# Tubu ma sanggar dohot tobu, parasaran ni piduk
Tubu ma anak pintar dohot boru na bisuk, Artinya Lahirlah dari padamu anak yang pintar dan putri yang rajin.

# Tubuh ma silanjuyang, itagil lang ra melus
Aha pe lang na hurang, anggo marhasoman Jesus, Artinya Tidak akan berkekurangan jika anda selalu berteman dengan yesus tuhan.

# Sada sikortas kajang, padua kortas hulipat
Sadokah ham marlajang, sada ham do hansa na hudingat
# Habang ma anduhur, sogop hu goring-goring
Anggo pusuk uhur, eta ham mandoding-doding

#  Hondor ma langge mu, i dolok si Marsolpah
Holong ni ateimu, ingaton ku do ai madokah

# Sihala sibarunje, ruak sihala bolon
Santabi ma bani umbei, dear nalang tarhorom

# Itampul bulu lihom, bulung ni irantingkon
Hatamu do masihol, hape uhur mu manadingkon

# Sedo lak-lak hasundur, haronduk ni buluk ku
Sedo halak hu sukkun, harosuh ni uhurhu

# Tumpak ni piring ledeng, paledang-ledang pahu
Loja do hapeni inang, pagodang-godang kon au

# Laklak itallik-tallik, i lambung ni pea-pea
halak na tahan marsik, ujungni jadi jolma na hasea

# Lak-lakni tamba tua, hoppa mambuat kuah
Pasangap orangtua, tong-tong dapotan tuah

# Lampuyang sakaranjang, bulung ni seng sadiha
Akkula do marganjang, uhur seng ope sadiha

# Marboras ma halawas, i jual hu Belanda
Horas ma nasiam martugas, haganupan wartawan

# Haporas ni silongkung, i huning i tubai
Anggo domma harosuh, ulang isumengi, lang ibadai

# Isuan ma timbaho, isuan manoran-noran
Paubah ma parlaho, ulang songon sapari, ase iharosuhkon hasoman

# Talaktak porling, sogop i bukkulan ni sopo
Indahan ni mata do borngin, ulang lalap ibodei lapo

# Ulang ihondor gumba, timbaho sihondoran
Ulang martonggo rupa, parlaho do sitonggoran

# Anduhur pinurputan, tading iparsobanan
Anggo uhur tinurutan, lang mar parsaranan

# Rage anak ni bintang, rage so hapulhitan
Buei do hata namantin, paima tangan dapotan

# Timbaho ni simarban, ulang mago sanrigat
Age lingot panonggor, ulang lupa pardingat

# Boras sabur-saburan, iboban ni pinggan pasu
Horas hita ganupan, sai jumpahan pasu-pasu

# Itarik gula, itanik songon tali
Age pe otik nasinari, ulang marsurei

# Irlak-irlak ma senter, itoru ni durian
Lang adong labuni jenges, anggo talu do ujian

# Initak ma sambor-bor, boras ronggit-ronggitan
Ijon hita manortor, ulang be borit-boritan

# Lang be tartalgis hon, pagaman ma na ronggos hon
lang be tartangishon, paganan ma na tor-torhon

# Habang ma kapal terbang, mamboan pinggan pasu
Age daoh ham marlajang, ulang lupa ham hubakku.